Jumat, 05 September 2008

98 08

Sebuah persembahan dari proyek payung yang berisi 10 film pendek karya 10 sutradara mandiri untuk mengenang tragedy Mei 1998. 10 Film pendek ini mengangkat berbagai cerita yang berbeda dengan satu tema nasionalisme selama 10 tahun terakhir, 1998-2008. Salah satu film favorit saya adalah Sugiarti Halim, sebuah film yang disajikan secara ringan dan humoris, namun memiliki pesan yang nyata yang selama ini enggan untuk diangkat ke mata publik. Film ini bercerita tentang kisah hidup seorang wanita keturunan Tionghua yang tinggal di Indonesia, namun seringkali mengalami diskriminasi rasial sampai ia & keluarganya harus mengganti nama tionghuanya menjadi nama lokal. Namun demikian, eksistensinya sebagai WNI pun masih tetap saja kurang diakui. Kalau kita ingat lagi, memang etnis tionghua pada saat itu seringkali menjadi korban tragedi Mei 1998 juga karena permasalahan rasial. Selain film ini, banyak juga film menarik lainnya misalnya film tentang luka dimana seorang gadis memiliki bekas luka yang tidak kelihatan namun tidak pernah bisa hilang karena ia telah menjadi korban pelecehan seksual pada tragedi Mei, film tentang pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh anak-anak SMA Solo yang menuntut reformasi ditegakkan di sekolah mereka, dan film tentang seorang ibu yang tidak pernah menyerah melajutkan perjuangan anaknya ‘Wawan’ yang tewas ditembak pada tragedi 1998. Masih banyak film menarik lainnya, namun beberapa film di atas adalah film yang membekas untuk saya secara pribadi. Menurut saya, 10 film pendek persembahan proyek payung ini memang mengingatkan kita akan tragedi Mei 1998 yang dulu sempat marak dan pastinya membekas untuk kita semua. Kejadian ini tidak jarang menimbulkan luka tersendiri, baik bagi kita pribadi maupun bagi perekonomian dan pemerintahan Indonesia secara merata. Namun, lewat film ini, kita diajak untuk melihat kembali, bahwa dengan luka sebesar itu, ternyata Indonesia masih bisa survive sampai sekarang ini. Luka yang pernah dimiliki bangsa kita adalah suatu sejarah yang patut kita mengerti dan hargai. Memang memiliki luka tidak enak, namun apakah kita mau terus terkungkung dengan luka tersebut ataukah luka tersebut kita jadikan pemacu untuk maju terus dan membangun Indonesia ke depannya? Mungkin suara mahasiswa sekarang sudah tidak keras terdengar lagi, betapapun kita mau berdiri berjam-jam di depan gedung MPR/DPR menyuarakan ini itu. Namun, menurut saya yang terpenting adalah kita sebagai generasi penerus bangsa pada saat ini harus maju dengan pola pikir yang berbeda dan integritas yang tinggi. Kita mulai reformasi dari dalam diri kita sendiri dulu, bukan dari luar diri kita. Rasa salut juga saya sampaikan pada tim proyek payung dan 10 sutradara yang telah berinisiatif untuk membuat film pendek ini dengan dana pribadi, yang telah memberi kontribusi besar pada perfilman Indonesia dan mengingatkan setiap orang yang menontonnya tentang nasionalisme Indonesia.

Tidak ada komentar: